Jumat, 09 Maret 2018

Cerita Utun dan Ibu




Dari jeda lulus sidang dan menunggu wisuda, saya berubah jadi jobseeker. Nenteng map di ketiak nawar-nawarin diri ke kampus-kampus wkwkkw lebay. Yah agak kebay tapi kira-kira gitu deh perjuangan mencari kampus. Sebenernya, saya udah punya kerja di sekolah dasar yang sangat saya cintai dan sayangi, tapi gatau penasaran pengen lamar anak orang eh kampus. Ceritanya biar tau pengalaman rekrutmen jadi dosen itu seperti apa.

Setau saya, orang yg jadi dosen itu ada macem-macem jalannya. Ada yang dari S1 sudah diprospek alias dipinang sama sang bango. Disuruhlah S2, kelar, tarik ngajar, beres. Ada yang melalui propaganda politik alias nepotisme alias kekuatan jaringan. Seperti yang dibilang di republik twitter : yang dibutuhin nyari kerja itu relasi sama sedikit keberuntungan. IPK mah buat orang yang gak punya keduanya!. Tipe yang ketiga, mungkin yang saya tempuh ini tipe yang harus ngesot dari bawah. Gak punya relasi, IPK pas-pasan (pas seongkoseun pulang😂), dan mengandalkan map di ketiak.
Semoga bermanfaat bagi para magister yang sedang berstatus jobseeker macem saya, bismillah.

Tahap 1. Seleksi administrasi - utun 3 bulan.

Cincai. Semua orang bisa as long as kamu match sama qualified yang mereka butuhkan. Jadi, jika IPB nyari lowongan dosen buat Prodi Kedokteran Hewan, sementara kamu seorang Magister Kriminolog, mohon tau diri dan gak usah nambah2 kerjaan pak pos buat anterin lamaran kamu ke kampus. Tapi biasanya yg bikin bingung adalah persyaratan perintilan macam TOEFL, IELTS, TPA dsb. Saya pribadi kemarin nekat mengandalkan tes toefl yang sudah 2 tahun kadaluarsa wkwkkw. Terus, jangan lupa lampirkan dokumen yang menaikkan gengsi kamu di mata kampus, misalnya terpilih jadi wisudawan terbaik, tersabar, teraniaya. Pokoknya kopi semuanya dan legalisir. Jangan lupa bismillah dan harus baik sama Pak Pos. Doa orang mah suka-suka Tuhan yang mana yang dikabul. Kerasa sama saya, berkas dokumen gak lengkap dan lowongan yang diambil agak melenceng dikit, tapi nyatanya lolos tahap administrasi.
Tahap 2. Micro Teaching - utun 3 bulan.
Biasanya akan ada pengumuman resmi dari pihak kampus jika kita lolos tahap seleksi administrasi. Dan jedanya ini suka-suka udelnya pihak kampus yang nentuin. Ada yang seminggu, sebulan, tapi kalau sampai setahun mah tinggalin aja mungkin kamu gak qualified atau kampusnya bangkrut. Nah, setelah dinyatakan lolos tahap administrasi, ada email masuk bahwa saya berhak ikut micro teaching. Maka, googling lah saya pengalaman micro teaching buat dosen itu kaya gimana, karena terakhir micro teaching itu waktu zaman aku masih gadis alias S1 pas PPL. Itu juga yang dihadapinya sebangsa Dilan, Piyan, Wati, Milea, pokoknya mah anak SMA labil. Oiya tips buat yang mau micro teaching sebaiknya googling dulu mata kuliah apa saja yang diajarkan di prodi yang bersangkutan. Ketika prodinya psikologi tapi kamu malah ngajar mata kuliah Anatomi Hewan kan tidak lucu, Kisana. Pokoknya cari tau mata kuliah apa yang diajarkan disana, ambil satu yang paling kita kuasai, bikin ppt, terus berdoa yang kenceng biar mahasiswa audiencenya gak rese haha.
Jadi pengalaman micro teaching kemarin saya membawakan mata kuliah psikologi kepribadian yang pada kenyataannya.......TIDAK ADA DI SILABUS PRODI. Wkwkkw kesel bet dah. Tp show must go on. Ada dekan, kaprodi, dan sekretaris prodi udah menatap saya dengan pandangan...what the hell are u teaching wkwkkwkw. Tapi so far mahasiswanya asiik. Saya malah lama intermezzonya dibanding masuk materi. Jadi fyi, kalau micro teaching melibatkan mahasiswa, biasanya mahasiswa tersebut juga diminta menilai kita ngajarnya seperti apa, dan para dedengkot (dekan, kaprodi, sekretaris prodi) akan sangat consider dengan hasil penilaian mahasiswa. Jadi harus baik-baik sama mahasiswanya ya, kalau perlu minum air doa terus semburin ke ruangan biar lancar.

Tahap 3. Interview - utun 3 bulan.
Dari tahap micro teaching yang ngasal banget membawa saya ke tahap interview. Disini saya diwawancara oleh dekan, kaprodi, sama pihak kampus saya juga gatau jabatannya apa. Pertanyaannya awalnya standar : kenapa milih kampus ini? Sudah lamar ke kampus mana saja? Bisakah anda menjalankan tridarma perguruan tinggi? Dari tiga datma tersebut, mana yang paling penting? Apa strategi yang akan anda kerjakan kalau jd dosen disini? Oke yang kek gitu lancar jawabnya. Cincai.

Lah lama kelamaan pertanyaannya berubah : menurut anda, lebih berbahaya islam radikal atau islam liberal?

Bengong. 2 jam. Wkkwkw


Sumpah saya gatau harus jawab apaaa tidakkk..akhirnya saya jawab ala-ala politisi tertangkap tangan KPK : ini akan saya jadikan pelajaran biar saya lebih banyak belajar lagi ke depannya...

Sumpah saya lupa jawab apa waktu itu, tapi yang pasti ngasal dan muter gak jelas. Ya sudah, berdoa yang baik, terus pulang naik kereta di stasiun kebayoran. Inget waktu itu hamil 4 bulan deh. Lagi semangat 45 kesana kesini naik tangga pun happy.

Tahap 4 Psikotest - utun 5 bulan
Tak disangka tak diduga, lulus interview hahaha😂 hamdallah, meskipun jawabannya ngasal banget waktu itu sampai malu dan ingin pindah ke meikarta. Ada jeda sekitar sebulan untuk hasil pengumuman interview ke psikotes. Agak aneh juga sih kenapa psikotest ditaruh di tahap ini, saya gak gau ternyata tahapannya masih panjaaang haha.

Jadi berangkatlah pagi buta ke daerah tangerang, karena psikotes ini diadakan di biro psikologi bapak sarlito wirawan almarhum. Seneng bisa kesana, banyak foto dan quotes keren bapak sarlito. Dengan bermodalkan gojek nyaris 50ribu rupiah dan sejam motoran, akhirnya sampai juga ke tangerang. Hamdallah ada yg mau pick up mang gojek aku padamu.

Dari sekian banyak pengalaman psikotes, yang satu ini nih yang paling bikin mabok. Tes dimulai jam 8, break jam 12-13, dan lanjut lagi sampai jam 4. Nyaris 8 jam udah mau muntah hahaha. Tes-nya macem macem, komplit kaya indomie up normal. Tes krapelin, CFIT, wartegg, tes gambar pohon orang sama rumah, EPPS, analog verbal, penalaran-logika, deret hitung, pokoknya paket komplit. Pas istirahat saya ngamatin peserta lain makan siang kayak kerasukan hahaha banyak banget mungkin lapar secara ya efek psikotest itu kaya orang habis nguli. 

Wawancara psikolog.
Ini dilakukan di hari yang sama dengan psikotest. Jadi bisa dibayangkan ketika otak ini lelah, harus menghadapi wawancara psikolog pula. Pertanyaan awal standar, tentang identitas diri, pengalaman mengajar, intinya sih psikolog tersebut berusaha menggali motivasi kami menjadi dosen. Yang lucu, psikolog yg wawancara saya malah lebih banyak ceritanya ketimbang nanya haha kebaliik. Tapi saya berusaha jadi pendengar yang baik buat beliau meskipun ngantuuuk sumpah. Di akhir wawancara (ini nih zonk banget), saya dites bidang 3dimensi untuk mengikuti pola yang ada secepat mungkin. Mirip test APM bagian kubus yang dijungkir balik, tapi ini kubusnya beneran. Ada 6 sisi dan kita diminta mengikuti motif tertentu, dan di timer. Pola pertama, oke. Meskipun waktunya agak melesat. Pola kedua dan seterusnya udah embuh. Ga bisa mikir ibuuuuu sumpah otaknya udah keperes habis hahah. Sumpah ngerjain itu bikin down bgt. Kayaknya sengaja ditaruh di akhir test saat kondisi psikis kita udah mengering buat lihat ketangguhan kita. Meskipun lama, tips saya, tetap kerjakan. At least, kita mencoba daripada menyerah sama sekali.

Beres wawancara psikolog, maka pulang dengan kepala cenat cenut dan perut LAPAR BANGET SUMPAH. Hahaha..maka ngojek lagi dr tangerang ke jagakarsa sampai tepos. Udah mau nangis gojeknya di cancel 2x ga ada yg mau pick up, tapi rejekinya utun ada yang mau ambil akhirnya. Utun pun off road lagi mentul mentul naik motor.

Test Bahasa Inggris (Toefl dan writing skill) - Februari, Utun 7 bulan jalan

Tes ini jedanya agak lama dari psikotest. Setau saya, kalau udah masuk tes ini berarti selamat karena kampus berpatokan banget sama hasil psikotes. Jadi psikotest lah gerbang pengguggur calon dosen bisa lanjut atau enggak. Awalnya ga mikir bisa masuk, karena dari desember udah blas gak ada pengumuman. Eeh ternyata februari pertengahan kemarin dapat informasi, kali ini langsung dari SDM kampus untuk ikut tes bahasa inggris. Tes-nya di lab bahasa kampus. Waktu dapat pengumuman ini, posisi saya lagi di tasik, ngungsi karena suami ada kuliah seminggu di jogjakarta. Baru aja berapa hari di tasik udah balik lagi haha untung ade mau ikut dan nemenin saya. Gara-gara lolos tahap ini juga saya jadi cerita ke ibu semuanya, karena dari awal daftar kampus ini saya sama sekali ga cerita. Saya takut gak keterima nanti malah ngecewain huhu. Lagian gak suka kalau belum fix apa-apa udah cerita duluan haha.

Tes toeflnya biasa ya standar, prediction gitu. Tapi karena udah zaman jebot saya terakhir ngerjain grammar, yaa agak-agak keder juga. Reading yang paling oke, thanks to jurnal-jurnal yang menemani selama S2. Setelah toefl ada writing skill, biasa, diminta opini tentang statement dan dibikin essay dalam bahasa inggris. Mengingat kemampuan writing saya mengharukan, saya tabrak aja itu tulisan ga jelas grammarnya pokoknya. Biar tetap percaya diri, saya bikin tulisan saya gede-gede segede gajah biar muat satu halaman kan gengsi dong yang lain ampe nambah kertas😭😭

Pulang dengan hati riang dan makan bento sama okonomiyaki.

Wawancara Kaprodi, Dekanat, dan Rektorat - Maret, Utun 8 bulan

Hamdalllaah essayku yang mengharukan berhasil mengantarkanky ke tahap akhir huhu *mrembes mili*
Ini tahap terakhiiiir sekali sebelum sah berstatus dosen tidak tetap. Ingat ya masih tidak tetap, karena masih ada kewajiban ngajar team teaching selama 2sks (kalau ngajar lolos dan dinilai oke, baru diangkat menjadi dosen tetap).
Wawancara pertama sama dekanat dulu. Dimulai dengan kesotoyan menyapa pak dekan dan ternyata salah orang😭😭😭 yang saya sapa adalah dekan tahun kemarin yang sudah lengser ya allah nis kok kamu cerdas cendekia sekali. Pak dekan juga agak gimanaaa gitu ya mukanya langsung males sama saya huhu maapin bapaaak. Wawancara dekanat ini lebih nanya2 tentang research yang pernah diikuti, seminar, pelatihan, tentang penelitian deh pokoknya. Saya juga dinasihati panjang lebar terkait jurusan serta beban tanggung jawab yang harus dipenuhi kalau diterima, seperti aktif menulis, ngurus NIDN, dsb. Di akhir wawancara, saya diminta ngaji gak pakai mushaf, plus ditanya apa artinya yang saya gak tau😭😭 sumpah ini pak dekan kayaknya heran kenapa saya bisa lolos hahahaa. Malu banget pokoknya sama beliau sampai aku cuma bisa tertunduk-tunduk hhu.

Wawancara rektorat.
Ini serem (tapi lebih sereman pak dekan sih). Warek 1,2, dan 3 berjajal mengepung saya. Ditanya soal tridarma, bahasa inggris, idealisme, motivasi, pengalaman hidup, penelitian, pokoknya kaya gado-gado. Di akhir juga mereka meminta saya mengaji tapi kali ini pakai mushaf, dan meminta saya untuk menjabarkan value dari arti ayat yang saya baca. Maka mengarang bebaslah saya, berkicau kesana kemari hehe. Mayan nervous bertemu petinggi kampus, tapi mereka baiiik kok.

Wawancara kepala sdm.
Menjelaskan skema kerja, salary, sama ngurus NIDN.

Wawancara kaprodi.
Duh bapak kaprodinya superbbbb. Tipe wajah yang selalu basah sama air wudhu. Adeeem gitu rasanya lihat muka beliau. Lupa beliau nanya apa aja saking khusyunya saya lihat mukanya yang damai😂


Yak. Sudaaaah. Jadi begitu perjalanan saya dari oktober sampai maret kemarin, yang hamdallah sudah diminta ngajar team teaching. Masih belum dosen tetap ya karena masih ada 2sks yang jadi bahan evaluasi. Sumpah rempong abis ya haha tp tiap kampus pasti punya kebijakan beda2.

Jadi, di usia hamil 34 minggu (8 bulan jalan), saya resmi kerja. Orang lain cuti, ini baru mulai kerja. Tapi ya rejekinya utun, pihak kampus memperbolehkan saya utk cuti hamil di pertengahan april which is pas banget sama due date saya. Gak ngerti lagi bersyukurnya ya allah, rejeki utun naak.. 

Satu hal lagi yang paling amazing dari pengalaman cari kerja ini adalah, utun begitu luar biasa baiknya saya bawa kesana-kesini. Utun baik, jantungnya sehat, aktif nendang, malah kata dokter bilangnya aktif banget. Sakit pinggang sama bengkak kaki mah udah wajar ye, tapi selebihnya hamdallah utun sehat. Gak pernah saya bermimpi akan menjalani  fase cari kerja berdua dengan jabang bayi. Beneran dari nol, gapunya koneksi apa-apa, gak kenal siapa-siapa dan pure mengandalkan kemampuan diri sendiri. Rasanya tuuh kaya ga percaya kok aku bisa ya😅. Dari 33 orang pelamar, kebanyakan pada gugur di microteaching dan paikotest.
Saya pernah sebelumnya daftar ke kampus dekat rumah, kasian amat deh kampusnya, udah (maaf) bobrok gitu. Baru nyampai sana, ibu-ibu TU nanya saya mau apa. Saya bilang mau lamar dosen bu, dan ibu itu dengan juteknya bilang kalau udah telat, udah tahun ajaran baru. Huhu sedih deh, pulang jalan kaki ke stasiun panas-panas sama utun. Pokoknya sesedih apapun, utun bisa bikin aku happy lagi. Dan rejekinya utun di kampus sekarang, siapa yang sangka bisa ada di kampus yang jauuuh lebih baik daripada kampus yang ngejutekin saya hhu. Allah maha perencana, juara emang.

Terimakasih sudah mau baca ya cerita saya sama utun. Minta doanya semoga utun sehat, sempurna, dan lancar lahirannya.

Love love,
Utun dan ibu.










friendsfriends

Powered By Blogger

x

x